Kamis, 17 Mei 2012

PENERAPAN UDĀYĪ SUTTA DALAM PENDIDIKAN AGAMA BUDDHA



 Oleh: Nanang Sutrisno

Seiring berjalannya waktu, kebutuhan tenaga guru agama Buddha semakin tercukupi. Hal ini ditunjang dengan semakin banyaknya perguruan-perguruan tinggi agama Buddha yang bermunculan di Indonesia. Namun, sudahkah para pendidik tersebut mengetahui bagaimana seharusnya memberikan pelajaran kepada peserta didik sesuai dengan anjuran Buddha?


Pendidikan merupakan suatu hal yang penting dalam kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat Buddhis di Indonesia. Mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) pelajaran agama Buddha telah dimasukkan ke dalam daftar mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik.
Pengadaan pelajaran agama Buddha di sekolah-sekolah merupakan hal yang sangat penting. Karena pelajaran tersebut selain memberikan pengetahuan tentang agama Buddha kepada para peserta didik secara teoritis, juga sebagai sarana untuk menanamkan sifat-sifat baik pada diri peserta didik melalui pelajaran tentang moralitas Buddhis yang dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai bekal untuk menjalani kehidupan dimasa mendatang.
Pada saat penyampaian pelajaran kepada peserta didik, terkadang seorang guru agama Buddha masih kurang luwes dalam penyampaiannya. Dalam artian bahwa seorang guru agama Buddha dituntut untuk dapat menyampaikan pelajaran dengan menarik, sehingga peserta didik dapat dengan antusias mengikuti pelajaran tersebut. Selain itu, seharusnya seorang guru juga mengusahakan agar peserta didik merasa nyaman pada saat pelajaran berlangsung.
Untuk dapat mewujudkan hal tersebut, seyogiyanya seorang guru dapat mengerti dan memahami hal-hal yang harus diperhatikan dalam memberikan pelajaran Dhamma kepada peserta didik seperti yang diutarakan Sang Buddha dalam Udāyī Sutta, Aṅguttara Nikāya. Terdapat lima hal yang hendaknya dimengerti dan dipahami sebagai hal-hal yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran. Kelima hal tersebut, yaitu:

1.      Anupubbiṁ kathaṁ kathessāmī’ ti paresaṁ dhammo desetabbo: ‘saya akan memberikan khotbah yang bertingkat’, dengan cara itulah seharusnya Dhamma diajarkan kepada orang-orang lain.
Hal ini berarti bahwa seorang guru hendaknya memberikan pelajaran dari hal-hal yang mudah kemudian dilanjutkan kepada hal-hal yang sulit. Model pembelajaran bertahap tersebut seperti yang dilakukan oleh Sang Buddha ketika Beliau mengajarkan anupubbikathā yang diawali dari dāna-kathā (kemurahan hati), sīla kathā (kemoralan), sagga-kathā (kebahagiaan alam surga), kāmādinava-kathā (bahaya di dalam kesenangan indera), dan nekkhammānisaṁsa-kathā (faedah peninggalan terhadap kesenangan indera).
Pelajaran bertahap ini dapat membantu peserta didik dalam menerima pelajaran yang diberikan oleh guru. Hal ini dikarenakan seorang peserta didik akan lebih antusias dalam proses pembelajaran apabila pembahasan yang diberikan guru dirasa mudah dan menarik. Berawal dari hal-hal yang mudah itu kemudian dijadikan sebagai batu loncatan untuk melanjutkan kepada tahapan-tahapan berikutnya yang lebih sulit.

2.      Pariyāyadassāvī kathaṁ kathessāmī’ ti paresaṁ dhammo desetabbo: ‘saya akan memberikan khotbah yang masuk-akal’, dengan cara itulah seharusnya Dhamma diajarkan kepada orang-orang lain.
Dalam memberikan penjelasan mengenai materi yang disampaikan seorang guru hendaknya mampu menganalisis apakah materi tersebut masuk akal atau tidak. Yang dimaksud dengan masuk akal di sini adalah bahwa pelajaran tersebut dapat dijangkau oleh pikiran orang yang diberikan pelajaran tersebut. Hal ini seperti ketika Sang Buddha mengajarkan Dhamma. Beliau selalu memberikan khotbah yang sesuai dengan kebutuhan pendengarnya.
Pada saat memberikan ceramah kepada Ratu Khema yang memiliki kesombongan karena kecantikannya Sang Buddha menjelaskan tentang ketidak kekalan dari tubuh manusia. Sang Buddha menggunakan kekuatan batin-Nya memunculkan sesosok manusia yang sangat cantik di sebelah Beliau. Kemudian sesosok manusia tersebut berubah menjadi tua dan meninggal hingga mayatnya hancur tanpa sisa. Mengetahui hal tersebut perlahan-lahan kesombongan Ratu Khema mulai memudar. Hingga akhirnya setelah mengetahui kenyataan dari proses hancurnya tubuh ini, Ratu Khema memohon untuk diterima menjadi seorang bhikkhuni kepada Sang Buddha.
Cerita tersebut hanya salah satu contoh pemberian materi pelajaran yang sesuai dengan pendengarnya. Bagi seorang guru haruslah dapat mengetahui latar belakang siswa yang diberikan pelajaran. Dengan demikian maka guru tersebut dapat memberikan pelajaran yang sesuai dengan apa yang dapat diterima oleh para peserta didiknya.

3.      Anuddayataṁ paṭicca kathaṁ kathessāmī’ ti paresaṁ dhammo desetabbo: ‘saya akan berbicara karena tergerak oleh simpati’, dengan cara itulah seharusnya Dhamma diajarkan kepada orang-orang lain.
Dalam menyampaikan pelajarannya seorang guru hendaknya harus didasari dengan niat yang baik, yaitu niat untuk membantu para peserta didiknya agar dapat maju dan berkembang. Seperti dari kalimat dalam Aṅguttara Nikāya di atas seorang guru yang baik akan mengajarkan pelajarannya karena tergerak oleh rasa simpati. Rasa simpati tersebut dapat berupa keinginan untuk membantu peserta didiknya memahami pelajaran yang ia berikan yaitu dengan cara bersikap sabar dan ulet pada saat proses belajar mengajar.

4.      Na āmisantaro kathaṁ kathessāmī’ ti paresaṁ dhammo desetabbo: ‘saya akan berbicara bukan demi keuntungan duniawi’, dengan cara itulah seharusnya Dhamma diajarkan kepada orang-orang lain.
Kalimat dalam Aṅguttara Nikāya tersebut dapat berarti juga bahwa seorang guru dalam melaksanakan tugasnya tidak hanya memikirkan keuntungan duniawi yang ia peroleh tetapi hendaknya juga memikirkan kualitas yang ia miliki sebagai seorang tenaga pengajar yang profesional. Pekerjaan menjadi seorang guru seharusnya dijadikan sebagai suatu kesempatan untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik yang lebih banyak, karena seorang guru membantu para peserta didiknya agar dapat berkembang dan dapat mencapai kemajuan dalam hidupnya.

5.      Attānañca parañca anupahacca kathaṁ kathessāmī’ ti paresaṁ dhammo desetabbo: ‘saya akan berbicara tanpa menyindir diri sendiri atau orang lain’, dengan cara itulah seharusnya Dhamma diajarkan kepada orang-orang lain.
Untuk menjelaskan pelajaran yang dirasa cukup sulit, biasanya seorang guru akan menggunakan contoh-contoh. Tanpa disadari terkadang contoh yang digunakan menyinggung orang lain atau menyinggung dirinya sendiri. Hal ini dapat menyebabkan para peserta didik yang sedang mengikuti pelajaran tersebut merasa tidak nyaman.
Dalam hal ini ada dua dampak apabila seorang guru menggunakan contoh-contoh yang menyinggung orang lain maupun diri sendiri. Pertama, apabila guru tersebut menggunakan contoh yang menyinggung orang lain maka di mata peserta didiknya guru tersebut memiliki citra yang kurang baik karena peserta didiknya akan menganggap bahwa gurunya senang membicarakan kekurangan-kekurangan orang lain. Dengan demikian rasa hormat peserta didik kepada guru tersebut akan berkurang dan akan berakibat pelajaran yang diberikan oleh guru tersebut akan diabaikan. Kedua, apabila seorang guru sering menggunakan contoh-contoh yang menyinggung diri sendiri maka pseserta didiknya pun akan bosan mendengarkannya karena pelajarannya hanya begitu-begitu saja. Pelajaran yang disampaikan menjadi terasa monoton karena setiap memberikan contoh guru tersebut selalu menceritakan tentang dirinya sendiri.
Kelima hal tersebut hendaknya benar-benar diperhatikan oleh seorang guru agama Buddha dalam menyampaikan pelajaran. Dengan menerapkan kelima hal tersebut maka diharapkan pelaksanaan pembelajaran akan menjadi lancar dan pelajaran pun dapat diserap oleh para pserta didik dengan maksimal.
Menjadi seorang guru yang dijadikan figur teladan bagi para peserta didiknya haruslah membuat seorang guru lebih berhati-hati dalam berpikir, berucap, maupun melakukan tindakan secara jasmani. Hal-hal yang telah diuraikan di atas merupakan panduan yang sangat baik bagi seorang guru dalam memberikan pelajaran kepada para peserta didiknya. Dengan menerapkan kelima hal tersebut seorang guru akan lebih mudah menyampaikan pelajaran kepada peserta didik, dan para peserta didiknya pun menjadi lebih mudah menerima apa yang ia sampaikan. Semoga tulisan ini dapat memotivasi para guru agama Buddha untuk terus meningkatkan kualitasnya dalam hal pengajaran, sehingga dapat menunjang perbaikan kualitas pendidikan agama Buddha di Indonesia. Semoga Semua Makhluk Berbahagia. Sabbe Sattā Bhavantu Sukhitattā. (Kant’s)

Referensi: Nyanaponika Thera dan Bhikkhu Bodhi. Petikan Aṅguttara Nikāya 2 (alih bahasa oleh Wena Cintiawati dan Lanny Anggawati). Klaten: Vihāra Bodhivaṁsa dan Wisma Dhammaguṇa. 2003.

1 komentar: